Organisasi Yang Diburu si baret Merah

Organisasi Yang Diburu si baret Merah – Siang 12 Januari 1974 itu, Sofyan serta A Siong tengah nikmati makan siang. Sofyan, lelaki berkumis serta berjanggut itu, duduk dengan senapan AK di paha. Dia tak sadar ada 12 orang pasukan komando tengah mengintainya dari belakang. Begitu juga kawannya A Siong dengan kata lain Ramang, yang menyandang senapan getmi.

Dari jarak 10 mtr. dari pasukan penyergap itu, tampak Ramang serta Sofyan tengah duduk makan siang bertemu diantara 3 pohon besar. Letnan Satu Sutiono dari Kopassandha (saat ini kopassus) Baret Merah, masihlah ingat perintah Mayor Sutarno : ” Upayakan tembak kakinya. ” Saat itu, sialnya kaki Sofyan tidak tampak. Badannya saja yang terlihat.

” Bila sangat terpaksa menembak, tembaklah Sofyan dahulu. Janganlah si Ramang! ” bisik Sutiono pada bawahannya. Sebab, sasaran paling utama mereka yaitu Sofyan. Pas jam 13. 05 dari celah-celah daun belukar, dalam jarak 10 mtr., sebutir peluru AR yang ditembakkan Sutiono meluncur. Peluru itu meluncur lewat belakang kepala Sofyan sampai menembus dahinya. Tembakan-tembakan lain selekasnya menyusul. Disamping itu, dengan cuma berkolor, Ramang ambil langkah seribu. Tetapi, getmi kepunyaannya ketinggalan.

Tersebut makan siang paling akhir Sayid Ahmad Sofyan Baraqbah. Ia yaitu buruan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia sepanjang bertahun-tahun di rimba Kalimantan Barat. Narasi penyergapan Sofyan di sekitaran Rimba Terentang serta Sungai Kalabau itu diwartakan Tempo (09/02/1974) .

Sesudah penembakan, pasukan itu konsentrasi mengurusi Sofyan yang telah jadi mayat. Tak gampang menggotong Sofyan dari rimba. Mereka mesti bersampan, membawa mayat Sofyan yang telah terbungkus plastik. Sesudah laporan masalah Sofyan di terima pihak militer di Pontianak, helikopter juga menuju Terenteng, zona pendaratan helikopter untuk menjemput mayat Sofyan.

Mendekati senja esok hari, barulah mayat Sofyan dapat didaratkan di depan Skodam XII/Tanjungpura, Pontianak. Dari sana, mayatnya diusung ke kamar mayat Kesdam XII/Tanjungpura yang jaraknya cuma 75 mtr.. Beberapa orang yang pernah mengetahui turunan sayid ini disuruh mengidentifikasi. Kenalan Sofyan seperti M. Ali AS, Soewardi Poespoyo, M. Juiceuf Suib, H. Abdussyukur, serta Abubakar Mansyur, membetulkan kalau mayat itu yaitu Sayid Ahmad Sofyan Baraqbah.

Sepanjang hidupnya, Sofyan tidak asing dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) , juga Pasukan Gerilya Rakyat Sarawak (PGRS) lalu. Namanya juga terdaftar dalam Dokumen-dokumen Kongres Nasional Ke-VI Partai Komunis Indonesia, 7-14 September 1959. Menurut catatan Tempo, Sofyan wafat di umur 48 th..

Dia lahir di Banjarmasin. Ajaran komunis dikenalnya di Medan, dimana dia juga berjumpa istrinya, Nani Sumarni, di kota itu. Di Medan, Sofyan telah jadi Ketua Perkumpulan Buruh Kiri Sarbupri/SOBSI Medan pada 1950. Dia kembali pada Banjarmasin pada 1954, jadi tokoh PKI serta anggota parlemen disana.

Di th. 1959, Sofyan geser lagi ke Pontianak. Disana dia jadi anggota Comite Daerah Besar Kalimantan Barat. Dia juga anggota Front Nasional. Sebagai insan partai komunis terpandang, Sofyan turut jadi dosen di sekolah partai yang terdapat di Gang Nurdin, Pontianak.

Baraqbah, nama belakang lelaki yang lahir kurang lebih th. 1926 ini, yaitu satu diantara marga keturunan Nabi Muhammad. jadi, ia bergelar sayid. Terkecuali Sayid Ahmad Sofyan Baraqbah, ada sayid lain yang juga komunis. Dari Kalimantan Timur ada Sayid Fahrul Baraqbah sebagai pimpinan CDB Kalimantan Timur serta anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Sesaat (MPRS) . Sesudah 1965, Fahrul di tangkap, namun Sofyan tak. Sofyan bergerilya.

Sesudah G30S tidak berhasil serta lanskap politik Indonesia pada pertikaian malaysia beralih, banyak sukarelawan Dwikora yang tergabung dalam PGRS malas berhenti berkonfrontasi. Mereka juga disikat ABRI. Dengan bekas PGRS itu, Sofyan bersekutu. Menurut catatan A. M. Hendropriyono yang turut dan penumpasan PGRS, ” PKI style baru ” pimpinan Sofyan dengan sisa PGRS melahirkan kemampuan yang dimaksud Barisan Rakyat (Bara) yang beroperasi mulai sejak 1966 sampai 1974. Dalam pasukan PGRS itu ada trio Lim Fo Kui, Bong Kie Chock, serta Bong Hon yang bergerilya di rimba belukar perbatasan RI-Malaysia di Kalimantan,

”Ini kita (TNI) melatih Tentara Nasional Kalimantan Utara serta PGRS di Surabaya, Bogor, serta Bandung. Pada akhirnya, sesudah perubahan pemerintah, Presiden Soeharto mengambil keputusan berdamai dengan Malaysia serta gerilyawan itu disuruh menempatkan senjata. Lantaran PGRS tak menyerah, sangat terpaksa kita sebagai guru mesti hadapi murid dengan bertempur di rimba rimba Kalimantan, ” kata A. M. Hendropriyono yang menulis Operasi Sandi Yudha : Menumpas Gerakan Klandestin (2013) .